Lailatul Qadar merupakan malam paling penting yang terjadi pada bulan Ramadan. Orang-orang Islam mempercayainya sebagai malam yang bahkan lebih baik dari malam seribu bulan. Tanda keistimewaan malam Lailatul Qadar telah banyak dijelaskan di dalam nash-nash Alquran juga hadis.
Malam Lailatul Qadar merupakan malam peringatan turunnya Alquran di muka bumi. Tidak ada satu pun yang dapat mengetahui secara pasti kapan malam Lailatul Qadar akan terjadi. Namun banyak tanda yang bisa digunakan untuk menginditifikasi bahwa malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar, baik dari Alquran maupun hadis.
Namun tahukah kamu apa kata ilmuwan NASA mengenai Lailatul Qadar? Pendapat ini sekaligus menjadi penjelasan ilmiah mengenai malam Lailatul Qadar. Ternyata NASA juga mengakui ada satu malam di antara 10 hari terakhir di bulan Ramadan, yang menurutnya sangat berbeda dengan malam-malam biasanya.
Dilansir dari surat kabar Delegation, seorang ilmuwan Mesir, Dr. Abdul Basit Muhammad mengungkapkan penjelasan ilmiah dari NASA mengenai malam Lailatul Qadar. NASA mengatakan ada satu malam di mana sebanyak 10 ribu lebih bintang dan lebih dari 20 ribu meteor yang biasanya menabrak Bumi tiba-tiba berhenti.
Menurut pengakuan Abdul Basit, penjelasan tersebut didapat dari ilmuwan NASA bernama Karnar yang akhirnya menjadi mualaf. "Namun Karnar akhirnya dipecat NASA karena menyebarkan informasi tanpa izin. Sehingga penjelasan tersebut tidak bisa diberikan dengan bukti data," ujarnya.
Malam Lailatul Qadar menjadi malam paling ditunggu dan hanya bisa dirsakan oleh orang yang menerimanya. Abdul Basit mengatakan, betapa beruntung seseorang yang dapat merasakan malam Lailatul Qadar.
sumber : liputan6.com
Subanallah
ternyata banyak yang disembunyikan oleh orang-orang barat tentang
kehebatan Islam yang ditunjukan dalam bentuk kejadian alam di dunia ini.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).
Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.
Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).
Ia
menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah
ini sehingga dunia tidak mengetahuinya. Menurutnya, sesuai dengan
hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة);
tingkat suhunya sedang), tidak ada bintang atau meteor jatuh ke
(atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi
cahaya.”
Sayyid menegaskan, terbukti secara ilmiah bahwa setiap
hari (hari-hari biasa) ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke
atmosfer bumi, kecuali Lailatul Qadr dimana tidak ada radiasi cahaya
sekalipun.
Hal ini sudah pernah
ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan
mempublikasikannya dengan alasan agar non Muslim tidak tertarik masuk
Islam.
Statemen ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA bernama Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir.
Hal tersebut dikemukakan Abdul
Basith Sayyid, Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di
Mesir, serta Dr. Abdul Basith As-Sayyid juga mendukung hal tersebut
dalam sebuah program di TV Mesir.
Sayyid juga menegaskan, pakar Carner akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA.
Ini
bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam.
Pakar geologi Islam Zaglol Najjar pernah menegaskan, NASA pernah
menghilangkan satu halaman di situs resminya yang pernah dipublikasikan
selama 21 hari. Halaman itu berisi hasil ilmiah tentang cahaya aneh yang
tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.
Sayyid menegaskan, “jendela” yang berada di langit itu mirip yang disebutkan dalam Al-Quran.
وَلَوْ
فَتْحنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنْ السَّمَاء فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارنَا بَلْ نَحْنُ قَوْم مَسْحُورُونَ
“Dan
jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari
(pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya.
tentulah mereka berkata: “Se sungguhnya panda ngan kamilah yang
dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”.” (Al-Hijr:
14)
Saat itu Carner menyaksikan dengan bukti jelas bahwa jagat
raya saat itu gelap setelah “jendela” itu tersibak. Karenanya, setelah
itu Carner mendeklarasikan keislamannya. Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.
Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.
Carner menambahkan, batu itu mampu
mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya.
Sebagaimana, tegas Sayyid Abdul Basith, Imam Syafi’i menyatakan bahwa
Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam
haji atau umroh sekali saja. (adibahasan/arrahmah.com)
- See more at:
https://www.arrahmah.com/ramadhan/pakar-nasa-ini-masuk-islam-pasca-sembunyikan-fakta-lailatul-qadar.html#sthash.9qF8jEsy.dpuf
Subanallah
ternyata banyak yang disembunyikan oleh orang-orang barat tentang
kehebatan Islam yang ditunjukan dalam bentuk kejadian alam di dunia ini.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).
Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.
Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.
Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).
Ia
menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah
ini sehingga dunia tidak mengetahuinya. Menurutnya, sesuai dengan
hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة);
tingkat suhunya sedang), tidak ada bintang atau meteor jatuh ke
(atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi
cahaya.”
Sayyid menegaskan, terbukti secara ilmiah bahwa setiap
hari (hari-hari biasa) ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke
atmosfer bumi, kecuali Lailatul Qadr dimana tidak ada radiasi cahaya
sekalipun.
Hal ini sudah pernah
ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan
mempublikasikannya dengan alasan agar non Muslim tidak tertarik masuk
Islam.
Statemen ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA bernama Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir.
Hal tersebut dikemukakan Abdul
Basith Sayyid, Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di
Mesir, serta Dr. Abdul Basith As-Sayyid juga mendukung hal tersebut
dalam sebuah program di TV Mesir.
Sayyid juga menegaskan, pakar Carner akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA.
Ini
bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam.
Pakar geologi Islam Zaglol Najjar pernah menegaskan, NASA pernah
menghilangkan satu halaman di situs resminya yang pernah dipublikasikan
selama 21 hari. Halaman itu berisi hasil ilmiah tentang cahaya aneh yang
tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.
Sayyid menegaskan, “jendela” yang berada di langit itu mirip yang disebutkan dalam Al-Quran.
وَلَوْ
فَتْحنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنْ السَّمَاء فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارنَا بَلْ نَحْنُ قَوْم مَسْحُورُونَ
“Dan
jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari
(pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya.
tentulah mereka berkata: “Se sungguhnya panda ngan kamilah yang
dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”.” (Al-Hijr:
14)
Saat itu Carner menyaksikan dengan bukti jelas bahwa jagat
raya saat itu gelap setelah “jendela” itu tersibak. Karenanya, setelah
itu Carner mendeklarasikan keislamannya. Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.
Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.
Carner menambahkan, batu itu mampu
mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya.
Sebagaimana, tegas Sayyid Abdul Basith, Imam Syafi’i menyatakan bahwa
Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam
haji atau umroh sekali saja. (adibahasan/arrahmah.com)
- See more at:
https://www.arrahmah.com/ramadhan/pakar-nasa-ini-masuk-islam-pasca-sembunyikan-fakta-lailatul-qadar.html#sthash.9qF8jEsy.dpuf

No comments:
Post a Comment